Sekilas flashback, dahulu Bandung terkenal dengan sebutan "Bandung Lautan Api" dan atau "Kota Kembang", tapi sayang Bandung sempat ternoda oleh video mesum salah satu mahasiswa Itenas, Nanda bersama kekasihnya yang sengaja direkam atas dalih koleksi pribadi. Kejadian ini sempat booming dan menjadi pembicaraan hampir semua orang, yang lebih parahnya lagi kalau nggak salah si perempuan anak seorang pejabat. VCD mereka dengan cepat tersebar ke berbagai kalangan dan pelosok dan bisa diperoleh dengan harga murah. Gara-gara kejadian itu, Bandung mendapat julukan baru yaitu "Bandung Lautan Asmara", ini sebenarnya sebagai sindiran untuk Kota kembang, sebab mempunyai generasi penerus yang tak bermoral. Saat ini ada julukan baru lagi untuk Bandung yaitu "Bandung Lautan Sampah". Kenapa?
Ya Bandung kiwari sudah nggak asri lagi, selain udara yang panas juga tumpukan sampah yang kian menggunung di seluruh pelosok kota kembang, contohnya Jl. Cihampelas (sebelum flyover), pasar sederhana, Jl. Sukajadi, Jl. M. Hatta, Jl sebelum ITC (saya lupa naam nya), dll. Selain menyebarkan bau busuk juga menimbulkan penyakit bagi warga sekitarnya maupun yang menghirup wanginya. Masalah sampah ini membuat Bandung semakin tercemar, padahal dahulu Bandung terkenal kesejukannya, asrinya, damainya, indahnya, mojang dan jajakanya nu gareulis sareng karasep, itu pula yang mendasari saya untuk melanjutkan sekolah ke Bandung.
Secara tidak langsung permasalahan tersebut akan mengancam Kota Kembang tercinta ini, sebab seperti yang kita tahu Bandung menjadi salah satu condongnya para wisatawan lokal maupun asing, semua orang berbondong-bondong untuk berwisata/berlibur ke Bandung, terbukti ketika musim liburan tiba kendaraan berplat nomor Jakarta dan daerah diluar Bandung memenuhi hampir separuh jalan, tempat belanja, tempat wisata serta penginapan-penginapan. Harusnya ini menjadi acuan bagi Pemkot Bandung untuk tetap menjaga kelestarian, keasrian Kota Bandung itu sendiri, karena itu merupakan aset. Jangankan bagi wisatawan yang baru pertama kali ke Bandung, saya saja yang sudah hampir tujuh tahun di Bandung merasa jengah dengan kondisi Bandung sekarang, selain itu "wangi" sampahnya tajam menusuk hidung.
Sepintas masalah sampah hanya sepele, tapi berdampak fatal, sampah yang dibuang sembarangan akibatnya menggunung dibeberapa ruas jalan, dikerumuni lalat besar berwarna hijau serta menimbulkan wangi yang khas. Masalah sampah sudah identik dengan Bandung sejak peristiwa Leuwi Gajah Februari 2005 lalu, longsor sampah itu menelan korban jiwa dan luka-luka. Mungkin akan beda hasilnya apabila sampah yang dibuang secara sembarangan oleh warga diolah sedemikian rupa, tapi yang menjadi permasalahan kita tidak mempunyai lahan sebagai Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA), sekarang santernya di daerah Gede Bage akan dijadikan PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, pro dan kontra silih berganti, rupanya Bandung ingin meniru kesuksesan negara Amerika, Belanda da Singapura yang terbukti memakai cara seperti itu, namun sayang lahan Bandung berbeda dengan ketiga negara tersebut. Untuk mewujudkan PLTSa ini membutuhkan dana yang tidak sedikit, pembangunannya pun memerlukan waktu yang cukup lama, perlu dukungan penuh dari warga, bukan hanya warga yang jauh dari tempat yang akan dijadikan PLTSa tapi juga warga yang tinggal disekitarnya, tapi kalau menurut saya alangkah baiknya apabila disekitar tempat yang akan dijadikan PLTSa tidak ada pemukiman penduduk, kasian mereka setiap saat akan mencium wangi sampah yang khas. Ck ck ck ...
Jadi solusi awal adalah STOP membuang sampah sembarangan, klasifikasikan sampah berdasarkan jenisnya, sampah organik atau an organik, sampah kering atau basah. Yeah mungkin akan terasa sulit tapi kalau dijalani dengan sungguh-sungguh dan dengan menyamakan misi supaya Bandung kembali asri dan sejuk. Seperti slogan Radio Rase FM " Keep Bandung Beautifull Euy!